Jakarta, 13 September 2026 – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama IPB University melalui Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) menyelenggarakan Workshop 1 Regional 1 Program Pengembangan Kerja Sama/Kemitraan Strategis Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026 di Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian penguatan kapasitas manajemen sekolah dalam membangun kemitraan yang relevan, strategis, dan berorientasi pada dampak bagi pengembangan sekolah dan talenta peserta didik.
Workshop yang berlangsung selama tiga hari, 12–14 September 2026, mengangkat tema “Building Strategic Partnerships for Global-Ready Talent: From MoU to Meaningful Impact”. Rangkaian kegiatan dirancang untuk membantu sekolah bergerak dari pola kerja sama yang bersifat administratif menuju kemitraan yang memiliki tujuan jelas, nilai bersama, program konkret, serta manfaat yang dapat dirasakan oleh para pihak.
Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan Strategic Alignment Session yang mengajak peserta menyelaraskan visi dan kebutuhan sekolah dengan tujuan pengembangan kemitraan strategis SUGT. Peserta tidak hanya mendapatkan paparan, tetapi juga terlibat dalam diskusi kelompok berdasarkan regional untuk menghubungkan arah pengembangan sekolah dengan kebutuhan kemitraan.



Rangkaian hari pertama kemudian dilanjutkan dengan sesi “Building Strategic Partnerships for Global-Ready Talent: From MoU to Meaningful Impact”. Sesi ini menempatkan kemitraan sebagai instrumen strategis untuk membuka akses terhadap berbagai peluang pengembangan talenta, sekaligus menekankan pentingnya memastikan bahwa kerja sama yang dibangun dapat diterjemahkan menjadi kegiatan dan manfaat yang nyata.



Memasuki hari kedua, peserta mengikuti Course 2 – Partner Mapping & Matchmaking: Finding the Right University Partners for SUGT yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Illah Sailah, MS. Sesi ini menekankan bahwa pemilihan mitra perlu dimulai dari identifikasi kebutuhan, prioritas, dan kesenjangan sekolah, bukan semata-mata berdasarkan reputasi atau peringkat perguruan tinggi.
Dalam sesi tersebut, peserta mempraktikkan Diagnostik Kebutuhan Sekolah, Kanvas Pemetaan Mitra, dan Rubrik Penilaian 4R untuk mengidentifikasi, mengkurasi, dan menentukan prioritas calon mitra. Pemetaan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu menyusun longlist mitra, mengidentifikasi potensi kerja sama dan manfaat bagi kedua pihak, serta menentukan prioritas mitra yang paling memungkinkan untuk dikembangkan.


Pendekatan tersebut juga menekankan pentingnya prinsip mutual interest dan win-win solution dalam membangun kemitraan. Bagi sekolah, kerja sama dengan perguruan tinggi dapat membuka berbagai peluang bagi peserta didik, termasuk akses terhadap kompetisi, program perguruan tinggi, beasiswa, maupun pathway pendidikan. Sementara bagi perguruan tinggi, kemitraan dengan sekolah dapat menjadi ruang pengabdian, pengembangan talenta potensial, serta perluasan keterlibatan akademik.
Dari proses pemetaan tersebut, peserta diarahkan untuk menentukan tiga calon mitra prioritas yang selanjutnya menjadi dasar untuk memasuki tahap pengembangan hubungan dengan mitra pada sesi berikutnya.



Sesi berikutnya, Course 3 – From First Contact to Partnership: How to Build and Manage University Relationships, disampaikan oleh Dr. Fithriyyah Shalihati, SE, MM, LCPC. Materi berfokus pada bagaimana sekolah membangun hubungan dengan perguruan tinggi sejak menentukan kontak yang tepat, melakukan first contact, membangun komunikasi dan kepercayaan, hingga menentukan tindak lanjut kerja sama.



Peserta juga melakukan praktik menyusun pesan awal kepada calon mitra dan melakukan scoring serta review antarsekolah. Dalam proses tersebut, peserta belajar menilai kejelasan komunikasi, personalisasi, relevansi, mutual value, serta call to action (CTA) yang dapat mendorong terjadinya tindak lanjut.
Pendekatan ini menegaskan bahwa komunikasi kemitraan tidak seharusnya hanya berorientasi pada kepentingan sekolah (school-centric), tetapi perlu menunjukkan manfaat bagi kedua belah pihak. Prinsip right university, right unit, right person, and right moment menjadi salah satu perhatian penting dalam membangun komunikasi awal dengan calon mitra.
Sementara itu, sesi Course 4 – The School Decision Lab: Making Better Decisions Under Pressure bersama Muhammad Sigit Susanto, MM, CPC mengajak peserta memperkuat kemampuan mengambil keputusan strategis dalam kondisi keterbatasan sumber daya, banyaknya prioritas, informasi yang belum lengkap, serta tekanan dari berbagai pemangku kepentingan.
Peserta menggunakan model pengambilan keputusan 6D, yaitu Define, Diagnose, Discover, Decide, Deploy, dan Debrief. Melalui kerja kelompok, peserta menyusun problem statement, mengidentifikasi akar masalah menggunakan metode 5 Why, mengembangkan alternatif solusi, serta menentukan prioritas berdasarkan aspek Impact, Urgency, dan Feasibility.


Proses kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana implementasi yang mencakup penanggung jawab, tindakan, timeline, risiko dan mitigasi, serta indikator keberhasilan. Sesi ditutup dengan simulasi perubahan kondisi untuk melatih kemampuan peserta dalam mengevaluasi, belajar, dan melakukan adaptasi terhadap keputusan yang telah diambil.
Pada sesi Course 5 – Design the Solution: Future-Ready School Program Lab, Dr. rer. agr. Eva Anggraini, S.Pi., M.Si., Direktur Konektivitas Global IPB University, mengajak peserta merancang program sekolah yang mampu mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan teknologi, pendidikan, dan dunia kerja.
Peserta mempelajari pentingnya talent mapping, pengembangan kompetensi masa depan, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, komunitas, dan mitra lainnya. Kompetensi yang menjadi perhatian mencakup global competence, STEM dan digital, karakter, kepemimpinan, keterampilan masa depan, serta real-world exposure.



Dalam sesi ini, peserta juga menyusun flip chart dan diagram Teori Perubahan yang menghubungkan kondisi nyata sekolah, tujuan akhir, outcomes, strategi, sumber daya, dan kondisi pendukung. Pendekatan tersebut diarahkan agar setiap program kemitraan dimulai dari kebutuhan dan kesenjangan nyata di sekolah serta dapat diukur berdasarkan perubahan yang dihasilkan, bukan semata-mata dari jumlah kegiatan.
Pada Course 6 bertajuk Partnership Proposal Clinic: How to Create a Compelling Collaboration Proposal, Intani Dewi, S.Pt., M.Sc., M.Si., menyampaikan materi yang berfokus pada penyusunan rancangan program kolaborasi dan pengembangan proposal kerja sama yang menarik. Melalui kerja kelompok terpandu, peserta menyusun rancangan program satu halaman, kemudian mengembangkannya menjadi draf awal proposal kerja sama dengan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah.


Melalui Workshop 1 Regional 1 ini, SUGT 2026 tidak hanya mendorong sekolah untuk memiliki lebih banyak mitra, tetapi membangun kemampuan untuk memilih mitra yang tepat, membangun hubungan yang bermakna, merancang program yang relevan, serta mengambil keputusan dan mengembangkan kolaborasi berdasarkan kebutuhan nyata sekolah.
Rangkaian pembelajaran tersebut menjadi bagian dari upaya Kemendikti Saintek bersama IPB University untuk membangun ekosistem kemitraan SUGT yang lebih terarah dan berkelanjutan. Sebagaimana ditekankan dalam program SUGT 2026, keberhasilan kemitraan tidak diukur dari banyaknya dokumen kerja sama yang dimiliki, tetapi dari sejauh mana kemitraan tersebut mampu menghasilkan peluang, pengalaman, pengetahuan, dan manfaat nyata bagi pengembangan sekolah serta talenta peserta didik.
Melalui proses yang berlangsung secara bertahap dari pemetaan kebutuhan, pemilihan mitra, pembangunan hubungan, perancangan solusi, hingga pengembangan proposal kerja sama, sekolah diharapkan semakin siap membangun strategic partnership yang mampu mendukung terwujudnya global-ready talent dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi pendidikan Indonesia.








Kontak Media:
Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif IPB University
Email: lkpe@apps.ipb.ac.id
Telepon: (0251) 8622645


