
Yogyakarta, 26 September 2026 – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama IPB University melalui Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) menyelenggarakan Pelatihan 1 Program Pengembangan Kerja Sama/Kemitraan Strategis Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026 Regional Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian penguatan kapasitas manajemen sekolah dalam menyusun arah kemitraan yang relevan dengan kebutuhan sekolah, membangun hubungan dengan calon mitra, serta merancang kolaborasi yang dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sekolah dan peserta didik.


Rangkaian kegiatan diawali dengan Opening Course: Strategic Alignment Session bersama Dr. Ir. Naufal Mahfudz, MM. Sesi ini mengajak peserta menyelaraskan visi sekolah dengan arah pengembangan kemitraan strategis. Peserta diajak menerjemahkan visi sekolah ke dalam gambaran yang lebih konkret melalui aktivitas Vision in One Sentence, yaitu merumuskan bagaimana sekolah ingin dikenal dalam tiga tahun mendatang. Dalam sesi tersebut, SMA Pradita Dirgantara menyampaikan visi untuk menjadi sekolah dengan reputasi nasional dan internasional melalui lulusan yang berprestasi secara akademik maupun non akademik, memiliki alumni yang berhasil dan berkualitas, serta memiliki keunggulan dan karakter kedirgantaraan. Sementara itu, SMA QT Yanbuul Qur’an 1 Pati menekankan visi untuk mengintegrasikan ilmu Al-Qur’an, riset, dan teknologi dalam pengembangan sekolah dan peserta didiknya.


Selanjutnya, peserta mengikuti Course 1: Building Strategic Partnerships for Global-Ready Talent: From MoU to Meaningful Impact yang disampaikan oleh Dr. Pria Sembada, S.Pt., M.S.T., M.Si. Sesi ini dirancang secara interaktif melalui simulasi peran antara pihak sekolah dan calon mitra untuk memberikan pengalaman langsung dalam proses membangun kerja sama. Peserta juga menyusun refleksi melalui aktivitas One Partnership, One Action dengan mengidentifikasi satu calon mitra, nilai yang dapat dibangun bersama, serta aksi konkret yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemitraan tersebut.


Memasuki Course 2: Partner Mapping & Matchmaking: Finding the Right University Partners for SUGT, yang disampaikan oleh Prof. Dr. Sahara, S.P., M.Si., peserta diarahkan untuk mengenali kebutuhan dan visi sekolah sebelum menentukan calon mitra perguruan tinggi. Peserta menuliskan visi sekolah dan memetakan sejumlah universitas yang dinilai relevan untuk dikembangkan menjadi mitra. Sesi juga dilengkapi dengan pembahasan studi kasus mengenai pembangunan program riset dan inovasi siswa melalui kemitraan dengan perguruan tinggi. Interaksi peserta menunjukkan bahwa proses membangun kemitraan perlu mempertimbangkan karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik, serta kesesuaian program yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.


Pada Course 3: From First Contact to Partnership: How to Build and Manage University Relationships bersama Dr. Doni Sahat Tua Manalu, S.E., M.Si., peserta mempelajari tahapan membangun hubungan dengan perguruan tinggi sejak kontak awal hingga pengembangan kerja sama. Peserta merefleksikan pengalaman kemitraan yang pernah dilakukan sekolah, termasuk kerja sama yang telah memiliki dokumen tetapi belum menghasilkan dampak yang optimal, maupun hubungan yang telah berjalan namun belum didukung oleh dokumen kerja sama. Melalui diskusi tersebut, peserta diajak untuk menganalisis kondisi dan memilih pendekatan yang sesuai dengan karakteristik calon mitra.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui praktik menyusun pesan untuk first contact kepada universitas prioritas dan simulasi komunikasi antara sekolah, mitra, dan observer. Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk berlatih membangun komunikasi yang relevan serta memahami bagaimana menyampaikan kebutuhan dan nilai kerja sama dari sudut pandang kedua belah pihak. Peserta juga memperoleh penguatan bahwa respons penolakan dari calon mitra merupakan bagian dari proses membangun jejaring dan tidak menutup peluang untuk mengembangkan hubungan pada kesempatan berikutnya.


Selanjutnya, Course 4: The School Decision Lab: Leading Change Under Pressure yang disampaikan oleh drh. Dordia Anindita Rotinsulu, M.Si., PhD. mengajak peserta memperkuat kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai persoalan sekolah. Peserta diperkenalkan pada pentingnya memahami kondisi yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan, termasuk ketika berada dalam situasi Hungry, Angry, Lonely, and Tired (HALT). Melalui sesi interaktif, peserta menyusun problem statement, mengidentifikasi alternatif, serta menentukan keputusan yang menjadi prioritas berdasarkan informasi yang tersedia.
Dalam sesi berbagi pengalaman, peserta dari SMA QT Yanbuul Qur’an 1 Pati mengangkat persoalan pelaksanaan kegiatan ketahfidzan yang berlangsung pada sore hari serta dinamika penanganan siswa yang mendapatkan scoring pelanggaran. Peserta lain, termasuk dari SMA Kesatuan Bangsa dan SMA Taruna Nusantara Magelang, turut menyampaikan persoalan yang dihadapi sekolah, mulai dari pengelolaan masalah internal hingga tantangan dalam menyampaikan informasi dan sosialisasi kepada siswa terkait peluang pendidikan dan mitra yang tersedia.


Rangkaian berikutnya dilanjutkan melalui Course 5: Design the Solution: Future-Ready School Program Lab bersama Dr. Utami Dyah Syafitri, S.Si., M.Si. Sesi ini memberikan ruang bagi peserta untuk memperkenalkan kondisi dan kebutuhan sekolah, khususnya dalam menghadapi tantangan penerimaan mahasiswa baru. Peserta juga memperoleh informasi mengenai peluang pendidikan dan beasiswa, termasuk program double degree melalui jalur fast track, serta mendapatkan ruang konsultasi terkait penerimaan mahasiswa baru. Melalui sesi tersebut, peserta diarahkan untuk mulai merancang program pengembangan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan dan arah pengembangan peserta didik.


Rangkaian Pelatihan 1 kemudian dilanjutkan dengan Course 6: Partnership Proposal Clinic: How to Create a Compelling Collaboration Proposal bersama Antonya Rumondang Sinaga, S.E., M.M. Sesi ini menjadi bagian dari tahapan pengembangan hasil pembelajaran sebelumnya menuju penyusunan gagasan kerja sama yang lebih terarah dan siap dikembangkan dalam bentuk proposal.
Melalui rangkaian pelatihan yang memadukan pemaparan materi, diskusi, praktik, studi kasus, dan simulasi, peserta Regional Yogyakarta memperoleh pengalaman untuk melihat kemitraan tidak hanya sebagai hubungan administratif, tetapi sebagai proses yang dimulai dari pemahaman visi dan kebutuhan sekolah, pemilihan calon mitra, pembangunan komunikasi, pengambilan keputusan, hingga pengembangan rancangan program dan proposal kerjasama. Rangkaian pembelajaran tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan sekolah dalam membangun kemitraan strategis yang relevan dan berkelanjutan untuk mendukung pengembangan sekolah serta peserta didik.







Kontak Media:
Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif IPB University
Email: lkpe@apps.ipb.ac.id
Telepon: (0251) 8622645


