
Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, 14 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi bekerja sama dengan IPB University mengadakan penguatan karakter bagi siswa melalui Bootcamp Regional Siswa SMA Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026 yang difasilitasi Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) IPB University. Acara yang diselenggarakan di SMAN Banua BBS ini menyampaikan pesan utama bagi para siswa, yaitu generasi muda tidak sekadar menghadirkan semangat berprestasi, melainkan juga perlu membiasakan diri mengenali potensi, berani mencoba, mampu bangkit dari kegagalan, serta bertanggung jawab atas proses belajarnya.
Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang juga dilaksanakan di berbagai wilayah lainnya seperti Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi pembelajaran. Sesi pagi menghadirkan Dr. M. Miftah Rahman, S.Hut., M.Si., sebagai narasumber Course 3 bertema Unggul, Kreatif–Inovatif. Setelah jeda istirahat, sesi siang dilanjutkan bersama Dr. Yulina Eva Riany, S.P., M.Ed., yang membahas Course 4 Gigih–Ulet dan Course 5 Disiplin–Mandiri. Rangkaian agenda dalam bootcamp ini diawali dengan sambutan pihak sekolah, penyampaian materi, tanya jawab, refleksi, post-test, pesan penutup, dan ditutup dengan foto bersama.
Di hadapan peserta, pembelajaran dirancang bertolak dari nilai GARUDA: Gigih, Adaptif, Religius–Etis, Unggul, Disiplin–Mandiri, serta Amanah–Kolaboratif. Nilai-nilai tersebut diposisikan sebagai kebiasaan sehari-hari, tidak hanya semboyan yang dihafalkan.
Dari potensi diri menuju inovasi yang bermanfaat
Dr. M. Miftah Rahman mengajak siswa membedakan keunggulan dari tuntutan untuk selalu sempurna. Prestasi akademik dipandang penting, tetapi proses belajar, integritas, keberanian mencoba, dan kemampuan menggunakan masukan juga menentukan kualitas seseorang. Ia mengingatkan melalui salah satu pesan utama yang tertulis pada materi presentasinya:

“Unggul bukan hanya tentang menjadi yang paling pintar, tetapi tentang terus belajar, berani mencoba, mengubah ide menjadi aksi, dan tetap memegang integritas.” Pesan tegas Dr. Miftah.
Salah satu latihan yang diangkat adalah memeriksa persoalan penggunaan tempat pengisian air minum di sekolah. Siswa diajak membedakan fakta hasil pengamatan dari asumsi, memahami pengalaman pengguna, kemudian menerapkan tahapan design thinking: empathize, define, ideate, prototype, dan test. Gagasan tidak berhenti pada ide menarik, tetapi perlu dipilih berdasarkan unsur kebaruan, kegunaan, dan kelayakan, lalu diuji menggunakan umpan balik.
Sebagai tips praktis, pada materi ini Dr Miftah mendorong siswa memilih satu kemampuan yang ingin dikembangkan, merancang latihan kecil dengan waktu pelaksanaan yang jelas, dan meninjau hasilnya. Dalam kerja kelompok, kontribusi yang berbeda, misalnya mengamati, berkomunikasi, menggambar rancangan, atau mengorganisasi pekerjaan dapat saling melengkapi. Pesan penutup dalam sesinya, Dr Miftah menegaskan, “Bawa pulang kebiasaan untuk mengamati, bertanya, mencoba, dan memperbaiki.”
Gigih menghadapi hambatan, disiplin menentukan arah

Materi yang dibawakan oleh Dr Eva juga membedakan growth mindset, grit, dan resilience. Growth mindset menjaga keyakinan bahwa kemampuan masih dapat dikembangkan; grit membantu siswa bertahan dalam proses panjang yang bermakna; sedangkan resilience memungkinkan mereka pulih dan kembali terlibat setelah mengalami kemunduran. Dalam konteks persiapan beasiswa dan studi lanjut, Dr. Eva menekankan pentingnya segera bertindak, tidak terus menunda dengan alasan belum siap.
“Jangan menunggu merasa siap untuk mulai. Mulailah, kemudian persiapkan diri kalian”. Tegas Dr. Eva dalam penyampayainnya.
Untuk melatih disiplin dan kemandirian, siswa diperkenalkan pada langkah yang dapat langsung diterapkan, seperti menetapkan prioritas, menentukan tindakan berikutnya, membuat rencana “jika–maka”, mengurangi distraksi, memantau bukti kemajuan, dan menyesuaikan jadwal bila kenyataan tidak sesuai rencana. Dalam contoh kehidupan asrama, kedisiplinan tidak cukup ditunjukkan dengan patuh saat diawasi; tanggung jawab perlu tumbuh dari diri sendiri. Sejalan dengan itu, materi Course 5 menegaskan, Disiplin tidak sama dengan patuh hanya saat diawasi dan Mandiri tidak sama dengan mengerjakan semuanya sendiri”.
Dr. Eva juga mengajak siswa membedakan bantuan yang memperkuat kemampuan dengan bantuan yang justru mengambil alih tanggung jawab. Meminta penjelasan kepada guru, mencari umpan balik, atau berdiskusi dengan teman tetap merupakan bagian dari belajar mandiri, selama pekerjaan dan keputusan utama tetap dipegang oleh dirinya sendiri. Dalam penutupnya, Dr. Eva memberikan semangat kepada para siswa melalui pesan yang sangat menyentuh, “Garuda hebat bukanlah yang tidak pernah jatuh, melainkan yang selalu bangkit dan terus terbang.”
Mengubah pembelajaran menjadi kebiasaan
Rangkaian bootcamp ditutup dengan post-test, pesan penutup serta sesi foto Bersama. Pesan penutup kegiatan disampaikan oleh Nowa Adipati Siregar, S.Si., selaku perwakilan LKPE IPB University. Kehadiran sesi ini menandai harapan agar penguatan karakter berlanjut setelah kegiatan, melalui langkah-langkah sederhana yang konsisten dalam kehidupan sekolah dan asrama.
Melalui pembelajaran kreatif, reflektif, dan berbasis contoh keseharian, Bootcamp Regional Siswa SUGT 2026 di SMAN Banua BBS diarahkan untuk membantu peserta menerjemahkan nilai GARUDA menjadi tindakan: mengenali kekuatan diri, berani memulai, belajar dari kesalahan, mengatur prioritas, serta mengembangkan kemandirian tanpa kehilangan semangat kolaborasi.

Kontak Media:
Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif IPB University
Email: lkpe@apps.ipb.ac.id
Telepon: (0251) 8622645


