
19 September 2026 — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama IPB University melalui Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) melaksanakan Pelatihan 1 Regional 2 Program Pengembangan Kerja Sama/Kemitraan Strategis Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi manajemen sekolah dari SMA Negeri 3 Semarang, SMA Semesta, SMA Qt Yanbuul Quran 1, SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, SMA Taruna Nusantara, SMA Pradita Dirgantara, SMA Kesatuan Bangsa, SMAS Muhammadiyah 1 Yogyakarta, SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, MAN 2 Kota Malang, SMAS Al Hikmah Surabaya, SMA Taruna Nusantara Malang untuk memperkuat cara pandang, strategi, dan keterampilan dalam mengembangkan kemitraan yang berangkat dari kebutuhan sekolah hingga menghasilkan program kolaborasi yang nyata.
Peserta diajak melihat kembali visi dan keunggulan sekolah, menentukan kebutuhan yang perlu dijawab melalui kemitraan, memilih mitra yang relevan, membangun hubungan, mengambil keputusan dalam situasi yang kompleks, hingga menerjemahkan peluang kolaborasi ke dalam rancangan program dan proposal yang terukur.


Kegiatan dibuka melalui Opening Course – Strategic Alignment Session bersama Dr. Nimmi Zulbainarni, S.Pi., M.Si. Pada sesi ini, peserta diajak menempatkan visi sekolah sebagai identitas sekaligus gambaran kondisi yang ingin dibangun pada masa mendatang.
“Visi digunakan sebagai identitas dan citra sekolah yang baru di masa yang akan datang. Tujuan pelatihan ini adalah menggunakan full potensi dari akreditasi dan keunggulan sekolah Bapak/Ibu agar mendapatkan kerja sama yang lebih bermanfaat untuk sekolah.”
Pembahasan kemudian diarahkan pada pentingnya menentukan mitra berdasarkan kebutuhan dan target sekolah. Kemitraan juga ditekankan harus menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak, sehingga sekolah tidak berhenti pada pola meminta dukungan, tetapi mampu menawarkan nilai dan membangun hubungan yang berkelanjutan.


Perspektif tersebut diperdalam melalui Course 1 – Building Strategic Partnerships for Global-Ready Talent: From MoU to Meaningful Impact bersama Bapak Syaefudin, SSi, MSi, PhD. Peserta diajak memahami salah satu persoalan dalam praktik kemitraan, yakni kerja sama yang berhenti setelah kesepakatan formal terbentuk.
“Hal yang perlu kita hindari adalah paradox partnership, karena kita sering menghadapi partnership yang mati dan berhenti di MoU. Dasarnya tentunya adalah kebutuhan sekolah.”
Dari kebutuhan tersebut, manajemen sekolah diarahkan untuk mengenali potensi yang dapat dikembangkan melalui kemitraan sekaligus menemukan keunikan yang dimiliki masing-masing sekolah. Keunikan tersebut menjadi dasar untuk menemukan titik temu dengan calon mitra dan selanjutnya diterjemahkan menjadi program bersama yang konkret. Hubungan yang telah dibangun perlu diikuti dengan program dan aktivitas yang relevan, termasuk melalui model pembelajaran berbasis proyek, sehingga kemitraan dapat membuka pengalaman baru serta mendukung pengembangan talenta peserta didik.


Selanjutnya, Course 2 – Partner Mapping & Matchmaking: Finding the Right University Partners for SUGT bersama Prof. Dr.-Ing. Azis Boing Sitanggang, MSc, STP membekali peserta dengan perspektif dalam menentukan calon mitra berdasarkan kebutuhan strategis sekolah.
“Saat menghadapi tantangan dalam menemukan mitra, kita perlu memilih mitra dengan mempertimbangkan mengapa mitra tersebut dipilih dan apa relevansinya dengan kebutuhan sekolah. Kalau mau memilih partner, pertanyaan yang perlu diperhatikan adalah ‘What do we get?’.”
Peserta diarahkan untuk tidak memilih mitra semata karena popularitas, kedekatan personal, maupun reputasinya. Sebaliknya, proses pemetaan perlu dimulai dengan memahami persoalan, potensi, serta kebutuhan sekolah, termasuk potensi dan minat peserta didik. Dalam prosesnya, sekolah didorong untuk melihat kepentingan dari dua sisi.


Keterampilan membangun hubungan dengan calon mitra kemudian menjadi fokus Course 3 – From First Contact to Partnership: How to Build and Manage University Relationships yang disampaikan oleh Ibu Puji Mudiana, S.P., M.A. Sesi ini menempatkan manajemen sekolah dalam peran yang lebih luas, tidak hanya sebagai pihak yang mengirimkan surat atau mencari perguruan tinggi, tetapi sebagai pengelola hubungan kelembagaan.
“Pertama, kita harus tahu peran baru apa dari manajemen sekolah dalam kemitraan strategis, yang dimulai dari kemampuan dalam membangun hubungan. Peran manajemen sekolah bukan hanya mencari universitas atau mengirimkan surat, tetapi menjadi relationship builder yang mampu membuka dan mengelola hubungan dengan mitra.”
Peserta mempelajari cara mengidentifikasi pihak yang tepat di lingkungan perguruan tinggi, menentukan momentum kontak, serta membangun komunikasi pertama secara relevan. Hubungan dengan calon mitra dipandang sebagai proses bertahap yang membutuhkan kepercayaan, komunikasi, dan tindak lanjut.
Melalui latihan komunikasi, peserta diperkenalkan pada pendekatan Connect–Context–Relevance–Value–Ask untuk memastikan pesan awal memiliki konteks yang jelas, menunjukkan alasan relevansi mitra, menawarkan nilai bersama, serta mengarahkan percakapan pada langkah berikutnya.


Kemampuan membangun kemitraan juga membutuhkan kemampuan mengambil keputusan dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Hal tersebut menjadi fokus Course 4 – The School Decision Lab: Leading Change Under Pressure bersama Ibu Dr. Alfiasari, S.P., M.Si.
“Tanpa Bapak/Ibu sadari, setiap hari sebagai seseorang, Bapak/Ibu tetap mengambil keputusan, bahkan untuk hal-hal yang terlihat sepele. Sehingga sebenarnya yang kita latih saat ini adalah realitas evaluasi individu agar terbiasa dalam mengambil keputusan sebelum seluruh informasi tersedia.”
Sesi ini mengajak peserta memahami bahwa pengambilan keputusan manajemen sekolah berlangsung di tengah keterbatasan sumber daya, beragam prioritas, informasi yang belum sempurna, serta tekanan dari berbagai pemangku kepentingan. Karena itu, peserta dilatih untuk tidak sekadar bergerak cepat, tetapi memiliki proses berpikir yang terstruktur dan mampu beradaptasi ketika situasi berubah.


Model 6D – Define, Diagnose, Discover, Decide, Deploy, dan Debrief digunakan untuk membantu peserta memahami masalah secara lebih utuh, menemukan akar persoalan, membandingkan sejumlah alternatif, menetapkan keputusan, mengimplementasikannya, dan mengambil pembelajaran setelah keputusan dijalankan. Selanjutnya, perhatian diarahkan pada kemampuan sekolah merancang program yang relevan melalui Course 5 – Design the Solution: Future-Ready School Program Lab bersama Bapak Muh Faturokhman, S.Pt., M.Si.
“Sebagai contoh di IPB, kita selalu melakukan talent mapping dengan menggunakan berbagai pendekatan untuk melihat potensi dan kebutuhan peserta didik secara lebih menyeluruh.”
Pembahasan menempatkan pengembangan talenta sebagai bagian penting dari rancangan sekolah masa depan. Dalam kerangka Future-Ready School, kemitraan menjadi sarana untuk memperluas kapasitas sekolah melalui akses terhadap pengetahuan, teknologi, pengalaman, jejaring, dan peluang nyata. Mitra tidak hanya ditempatkan sebagai pihak yang memberikan dukungan, tetapi sebagai bagian dari proses untuk menghasilkan pengalaman belajar, peningkatan kapasitas, serta outcome yang dapat diukur.


Tahap akhir pembelajaran berfokus pada bagaimana peluang kolaborasi dikemas menjadi dokumen yang mampu menggerakkan proses kerja sama melalui Course 6 – Partnership Proposal Clinic: How to Create a Compelling Collaboration Proposal bersama Ibu Gilang Ayuningtyas, S.Pt., M.Si.
“Tidak semua hubungan kerja sama harus menggunakan proposal sejak awal. Kerja sama dapat dimulai dari komunikasi awal yang memberikan kesempatan kepada sekolah untuk menawarkan dan mengeksplorasi peluang kerja sama dengan mitra.”
Pendekatan tersebut menempatkan proposal sebagai bagian dari proses membangun kolaborasi, bukan sekadar dokumen administratif yang dikirimkan kepada calon mitra. Proposal perlu lahir dari komunikasi yang telah berlangsung dan mencerminkan titik temu kepentingan kedua pihak.
Peserta kemudian mempelajari unsur-unsur yang perlu diperjelas dalam proposal, mulai dari kebutuhan dan prioritas mitra, rancangan program, target, peran masing-masing pihak, sumber daya, timeline, hingga indikator keberhasilan. Perhatian juga diberikan pada student experience, sehingga calon mitra dapat melihat secara konkret bagaimana program akan dijalankan dan manfaat apa yang akan dihasilkan.
Pendekatan ini memperkuat posisi manajemen sekolah sebagai penggerak kemitraan strategis. Sekolah tidak hanya diarahkan untuk mencari sebanyak mungkin mitra, tetapi untuk memahami alasan memilih mitra, menemukan titik temu kepentingan, serta memastikan setiap kerja sama memiliki program, peran, ukuran keberhasilan, dan manfaat yang jelas.




Rangkaian Pelatihan 1 Regional 2 menjadi bagian dari upaya Kemendiktisaintek bersama IPB University dalam memperkuat ekosistem kemitraan SUGT 2026 yang berorientasi pada kebutuhan dan hasil. Dengan proses yang dimulai dari kebutuhan sekolah dan berlanjut hingga perancangan kolaborasi, kemitraan diharapkan dapat berkembang menjadi pengalaman belajar, peningkatan kapasitas, serta peluang nyata bagi peserta didik dan pengembangan sekolah.
Pada akhirnya, kemitraan strategis bukan semata tentang siapa yang menjadi mitra atau berapa banyak kesepakatan yang berhasil dibuat. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana hubungan tersebut dapat diterjemahkan menjadi program yang relevan, dilaksanakan secara nyata, menghasilkan perubahan yang terukur, dan terus dikembangkan untuk mendukung lahirnya talenta yang siap menghadapi tantangan masa depan.








Kontak Media:
Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif IPB University
Email: lkpe@apps.ipb.ac.id
Telepon: (0251) 8622645


