
Bogor, 18 September 2026 — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama IPB University melalui Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) melaksanakan hari pertama Bootcamp Regional Jawa Barat Program SMA Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026 di Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Bogor. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi guru, tenaga kependidikan, dan manajemen sekolah untuk memperkuat karakter, daya adaptasi, integritas, serta tata kelola sekolah dalam menghadapi perubahan pendidikan yang semakin cepat.
Sebanyak 83 peserta hadir dari delapan sekolah yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Jawa Barat. Mereka berasal dari SMA Cahaya Rancamaya, Kota Bogor sebanyak 12 peserta; SMAS Insan Cendekia Al Kausar, Kabupaten Sukabumi 10 peserta; SMAS Darul Hikam Internasional, Kabupaten Bandung Barat 6 peserta; SMA Islam Terpadu As-Syifa Boarding School Wanareja, Kabupaten Subang 12 peserta; Sekolah Menengah Atas Pribadi Bandung, Kota Bandung 7 peserta; SMA Taruna Nusantara Terintegrasi Cimahi, Kota Cimahi 12 peserta; serta SMA Dwiwarna dan SMA Islam Al Azhar 24 yang masing-masing mengirimkan 12 peserta dari Kabupaten Bogor. Komposisi tersebut mempertemukan pengalaman sekolah dengan konteks, kultur, dan tantangan yang berbeda dalam satu forum pembelajaran regional.



Grit dan Resiliensi menuju Budaya Sekolah yang Adaptif
Pada sesi pagi, pembelajaran diarahkan pada grit, resiliensi, growth mindset, pembelajaran sepanjang hayat, feedback konstruktif, kemampuan merespons perubahan, serta kesiapan menghadapi perkembangan digital dan kecerdasan artifisial. Materi tidak hanya mengajak peserta untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga menempatkan kegagalan, kritik, dan perubahan sebagai bagian dari proses belajar yang perlu dikelola secara sadar.
Bergerak, belajar, dan menyesuaikan


Dalam materi yang dibawakan Prof. Yulin, growth mindset ditempatkan sebagai keyakinan bahwa kemampuan individu maupun organisasi sekolah dapat terus berkembang melalui belajar, usaha, pengalaman, dan evaluasi. Bagi guru dan tenaga kependidikan, hal ini berarti berani mengubah kritik menjadi bahan perbaikan. Bagi manajemen sekolah, perubahan kurikulum, teknologi, maupun kebijakan perlu dibaca sebagai peluang untuk mengembangkan kapasitas, bukan semata-mata sebagai gangguan yang harus dihindari.
“Kegagalan bukan vonis permanen, tetapi bagian dari proses belajar.” Ungkap Prof. Yulin Lestari.
Tips praktis dari sesi Prof. Yulin adalah memulai dari langkah yang dapat dilakukan ketika kondisi belum sepenuhnya ideal, kemudian mengamati hasil dan menyesuaikannya. Prof Yulin juga mengarahkan peserta untuk menggunakan tiga pertanyaan dalam memberi atau menerima umpan balik: ke mana tujuan ingin dicapai, sejauh mana posisi saat ini, dan langkah konkret apa yang perlu dilakukan berikutnya. Pola tersebut membantu sekolah bergerak dari sekadar mengetahui masalah menuju proses perbaikan yang berkelanjutan.
Ketangguhan membutuhkan dukungan dan keteladanan


Prof. Dwi mengajak peserta melihat resiliensi bukan sebagai kemampuan bawaan yang hanya dimiliki orang tertentu, melainkan sebagai kapasitas yang dapat dibangun melalui dukungan relasi yang sehat, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan mengatur diri. Perspektif ini penting karena tuntutan terhadap guru dan tenaga kependidikan tidak cukup dijawab dengan pesan agar individu “lebih kuat”; sekolah juga perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan orang belajar, mencoba kembali, dan memperoleh dukungan saat menghadapi tekanan.
“Nilai tidak hanya disampaikan, tetapi nilai-nilai harus ditunjukkan.” tegas Prof. Dwi Hastuti.
Tips praktis yang dapat dibawa dari sesi Prof. Dwi adalah membangun ruang kerja yang aman untuk refleksi, menjadikan cara berkomunikasi dan menghadapi kesalahan sebagai bagian dari keteladanan, serta membangun disiplin melalui pola yang sederhana: menentukan tujuan, menyiapkan sistem kerja, lalu menjaganya secara konsisten. Pembentukan karakter tidak berhenti pada nasihat, tetapi hadir melalui kebiasaan yang terlihat dan dialami setiap hari oleh warga sekolah.
Ketangguhan harus berujung pada tanggung jawab


Sesi bersama Prof. Yusman menekankan bahwa daya tahan individu perlu berkembang menjadi kapasitas organisasi. Sekolah tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu bertahan dalam tekanan, tetapi juga sistem yang menjaga arah, memperjelas tanggung jawab, dan memungkinkan organisasi belajar dari setiap perubahan. Pada level manajemen, ketangguhan berkaitan dengan kemampuan menentukan prioritas, mengembangkan sumber daya manusia, serta menyesuaikan proses kerja ketika situasi berubah.
“Accountability bukan hanya mempertanggungjawabkan hasil, tetapi memahami bagian saya dalam situasi ini.” pesan Prof. Yusman.
Tips praktis dari sesi Prof. Yusman adalah membiasakan diri bertanya “apa bagian saya dalam situasi ini?” sebelum menentukan tindakan. Dalam pengambilan keputusan, peserta juga diarahkan untuk mengenali masalah, mengumpulkan fakta, mengidentifikasi pilihan, mempertimbangkan nilai dan dampaknya, mengambil keputusan, kemudian merefleksikan hasilnya. Bagi manajemen sekolah, kebiasaan ini dapat diterjemahkan ke dalam tata kelola yang runtut dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi dan perbaikan.
Religius-Etis: nilai sebagai kompas dalam keputusan dan layanan



Pada sesi siang, ketiga narasumber berpindah kelas. Prof. Yusman mendampingi Kelas 1, Prof. Yulin mendampingi Kelas 2, dan Prof. Dwi mendampingi Kelas 3 dalam Course 3 bertema Religius-Etis. Pembelajaran bergerak dari tujuan dan nilai personal menuju integritas, keteladanan, accountability, disiplin diri, pengambilan keputusan etis, tata kelola sekolah, manajemen risiko, serta etika digital. Peserta diajak memahami bahwa nilai yang diyakini harus terlihat dalam perkataan, keputusan, pelayanan, serta cara menggunakan kewenangan.
Bagi guru dan tenaga kependidikan, integritas hadir dalam pembelajaran, penilaian, komunikasi, perlindungan privasi, serta layanan kepada peserta didik. Bagi manajemen sekolah, integritas juga menyentuh keputusan, anggaran, pembagian tugas, kebijakan, dan hubungan dengan warga sekolah. Profesionalisme tidak dipahami sebatas kemampuan menyelesaikan pekerjaan, melainkan keselarasan antara nilai, keputusan, dan tindakan yang berdampak pada lingkungan pendidikan.
Salah satu benang merah yang kuat dari hari pertama adalah pentingnya menghubungkan ketangguhan dengan kompas nilai. Sekolah memang dituntut cepat beradaptasi, tetapi perubahan tetap memerlukan arah. Data dan fakta perlu dipertemukan dengan pertimbangan moral dan kepentingan peserta didik. Teknologi dapat digunakan untuk memperkuat proses kerja dan pembelajaran, tetapi tanggung jawab profesional tetap berada pada manusia. Pada saat yang sama, disiplin juga tidak dipersempit menjadi ketepatan waktu; disiplin mencakup pengelolaan perilaku, emosi, energi, prioritas, dan tanggung jawab secara konsisten.
Ruang Pertukaran Praktik dari Tujuh Wilayah Jawa Barat
Keberagaman asal peserta memberi dimensi penting pada bootcamp ini. Sekolah dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Subang, Kota Bandung, dan Kota Cimahi membawa pengalaman yang berbeda dalam menghadapi perubahan, membangun kultur sekolah, mendampingi peserta didik, maupun mengelola organisasi. Pertemuan lintas sekolah tersebut membuka ruang bagi peserta untuk tidak hanya belajar dari narasumber, tetapi juga membandingkan praktik, melihat alternatif penyelesaian masalah, dan membangun jejaring profesional antarsekolah.
Rangkaian hari pertama juga dilengkapi dengan sesi tanya jawab, post-test, ice breaking, refleksi, dan foto bersama. Melalui kombinasi materi, diskusi, dan pertukaran pengalaman, Bootcamp SUGT Regional Jawa Barat 2026 diarahkan agar peserta membawa pulang tidak hanya pemahaman konsep, tetapi juga praktik sederhana yang dapat diterapkan: berani memulai dan menyesuaikan ketika perubahan datang, membangun ruang refleksi dan dukungan, menjadikan nilai terlihat melalui tindakan, mengambil keputusan berbasis fakta dan pertimbangan etis, serta menjaga konsistensi melalui sistem kerja yang jelas.
Hari pertama menunjukkan bahwa karakter unggul di sekolah tidak dibangun melalui satu sesi pelatihan, melainkan melalui praktik yang berulang dan saling menguatkan antara individu dan organisasi. Guru dan tenaga kependidikan berperan pada interaksi harian dengan peserta didik, sementara manajemen sekolah menciptakan sistem dan budaya agar praktik baik dapat bertahan. Ketika ketangguhan, kemampuan beradaptasi, integritas, disiplin, dan tanggung jawab tumbuh bersama, sekolah memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah pendidikan.
Memasuki Hari kedua Bootcamp Regional Jawa Barat Program SMA Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026 di Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Bogor, mempertemukan kembali guru, tenaga kependidikan, dan unsur manajemen sekolah dalam dua tema yang saling menguatkan. Sesi pagi melalui Course 4 bertema Unggul, Kreatif–Inovatif mengajak peserta bergerak dari pengenalan kekuatan diri menuju kreativitas, pemecahan masalah, transformasi digital, dan inovasi yang dapat diterapkan. Sesi siang melalui Course 5 bertema Amanah–Kolaboratif kemudian memperluas pembelajaran ke fondasi kepercayaan, integritas, kepemimpinan kolaboratif, komunitas belajar profesional, dan dampak nyata bagi peserta didik.
Bootcamp Regional Jawa Barat melibatkan 83 peserta dari delapan sekolah yang tersebar di tujuh kabupaten/kota. Para peserta berasal dari Kota Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Subang, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bogor. Keberagaman wilayah ini membuat kelas bukan hanya menjadi ruang menerima materi, tetapi juga ruang membandingkan pengalaman, tantangan, dan praktik sekolah dari berbagai konteks di Jawa Barat.
Peserta dibagi dalam tiga kelas: Kelas 1 sebanyak 20 peserta, Kelas 2 sebanyak 32 peserta, dan Kelas 3 sebanyak 31 peserta. Pada sesi pagi Course 4, Dr. Eng. Obie Farobie, S.Si., M.Si. mendampingi Kelas 1, Prof. Dr. Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si. mendampingi Kelas 2, sedangkan Aries Setiadi, S.E., MPA. mendampingi Kelas 3. Pada sesi siang Course 5, rotasi narasumber berubah: Aries mendampingi Kelas 1, Dr. Obie mendampingi Kelas 2, dan Prof. Tri mendampingi Kelas 3. Pola rotasi tersebut menjaga pengalaman belajar tetap setara sekaligus memberi ruang bagi setiap narasumber untuk membawa perspektif akademik, riset, inovasi, dan kebijakan ke dalam diskusi sekolah.



Keunggulan yang Bertumbuh dari Kreativitas dan Perbaikan
Pada hari kedua ini, membahas terkait keunggulan sebagai proses yang dibangun, bukan status yang selesai dicapai. Materi bergerak dari growth mindset dan pemetaan kompetensi menuju kebiasaan reflektif, pemahaman kebutuhan peserta didik dan pengguna layanan, kreativitas sistemik, pemecahan masalah terstruktur, design thinking, inovasi manajemen, transformasi digital, penggunaan AI secara bertanggung jawab, hingga rencana aksi SMART. Pada level guru dan tenaga kependidikan, fokusnya berada pada interaksi dan layanan sehari-hari; pada level manajemen sekolah, fokusnya diperluas menjadi sistem, kebijakan, keputusan, dan budaya organisasi.
Keunggulan dibangun lewat refleksi dan perbaikan
Prof. Tri Wiji Nurani, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, mengarahkan peserta melihat keunggulan sebagai kebiasaan untuk terus belajar. Dalam materi, peserta diajak memetakan kompetensi, membaca kebutuhan orang yang dilayani, kemudian menjalankan siklus melakukan–merefleksikan–memperbaiki–mencoba kembali. Kerangka tersebut penting agar sekolah tidak berhenti pada ide yang menarik, tetapi mampu mengubah ide menjadi praktik yang diuji, dievaluasi, dan diperbaiki.

“Keunggulan tidak berhenti pada pencapaian, tetapi dibangun melalui proses belajar, refleksi, dan perbaikan yang berkelanjutan. Keunggulan menjadi kebiasaan ketika individu dan organisasi memiliki komitmen untuk terus berkembang.” tegas Prof. Tri Wiji Nurani.
Tips praktis dari sesi Prof. Tri adalah mengubah refleksi menjadi rutinitas kerja. Guru, tenaga kependidikan, dan manajemen dapat memulai dengan weekly reflective journal untuk mencatat keputusan, dampak, dan hal yang perlu dilakukan berbeda; meminta 360-degree feedback dari atasan, rekan, maupun pihak yang dilayani; serta menghidupkan professional learning community lintas sekolah untuk bertukar solusi dan praktik baik. Dengan cara itu, perbaikan tidak menunggu evaluasi besar di akhir program, tetapi terjadi melalui kebiasaan kecil yang berulang.
Inovasi harus bernilai tambah dan tetap berpusat pada manusia
Dr. Obie Farobie, Asisten Direktur Riset Dasar dan Terapan IPB University, membawa perspektif riset dan inovasi ke dalam pembahasan kreativitas sekolah. Materi menekankan bahwa kreativitas perlu diterjemahkan menjadi pemecahan masalah yang terstruktur: mengidentifikasi masalah, memahami penyebab, menghasilkan beberapa alternatif, memilih solusi, mencoba dalam konteks nyata, lalu mengevaluasi hasil. Prinsip design thinking juga diperkenalkan dengan titik awal yang sederhana, memahami peserta didik atau pengguna layanan sebelum merumuskan solusi.

“AI hanya sebagai alat bantu analisis. AI memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikan tanggung jawab manusia. Keputusan yang berdampak signifikan pada individu tetap harus diputuskan manusia. Mulai dari area berisiko rendah dan bernilai tambah tinggi.” Pesan Dr. Obie Farobie.
Tips praktis dari sesi Dr. Obie adalah memulai inovasi dari masalah nyata, bukan dari teknologi yang sedang populer. Sekolah dapat membuat bentuk awal solusi yang sederhana, mengujinya pada skala kecil, lalu memperbaikinya berdasarkan respons pengguna. Untuk digitalisasi, peserta diarahkan membedakan digitasi dokumen, digitalisasi proses, dan transformasi digital penuh yang memanfaatkan data untuk keputusan strategis. Sementara itu, penggunaan AI sebaiknya dimulai pada area berisiko rendah, misalnya draf administrasi atau analisis data awal dengan perlindungan data, validasi informasi, dan pemeriksaan manusia tetap menjadi syarat utama.
Berpikir strategis, membangun kepercayaan, dan memastikan dampak
Aries Setiadi, S.E., MPA., Senior Principal FSP & Policy Advocacy Women’s World Banking, menghubungkan kreativitas dengan kemampuan membaca tren, risiko, peluang, dan kebutuhan pengguna layanan. Bagi manajemen sekolah, pola pikir strategis berarti tidak hanya merespons persoalan yang sudah muncul, tetapi juga melihat kebutuhan tiga sampai lima tahun ke depan. Perspektif ini kemudian berlanjut pada Course 5, ketika peserta diajak melihat bahwa inovasi dan keunggulan tidak akan bertahan tanpa kepercayaan, integritas, dan kolaborasi.

“Know your purpose. Live your values. Lead yourself. Own your impact. Build excellence. Sekolah yang baik tidak dibangun oleh satu orang atau satu pihak saja, keberhasilannya lahir dari kesadaran bahwa setiap warga sekolah memiliki peran dan tanggung jawab yang saling melengkapi.” Ungkap pesan penutup Aries Setiadi.
Tips praktis dari sesi Aries adalah menghubungkan setiap gagasan dengan kebutuhan pengguna layanan dan indikator dampak. Sebelum menambah prosedur, sekolah dapat menerapkan prinsip “satu masuk, satu keluar”: setiap formulir atau prosedur baru perlu disertai identifikasi satu proses lama yang dapat dihapus atau disederhanakan. Ketika menyusun rencana aksi, peserta juga diarahkan menggunakan kerangka SMART agar gagasan memiliki sasaran yang spesifik, terukur, realistis, relevan dengan visi sekolah, dan memiliki batas waktu serta titik evaluasi yang jelas.
Dari Amanah dan Kepercayaan Menuju Kolaborasi yang Berdampak
Pada sesi siang, pembelajaran bergerak dari kemampuan individu menuju kualitas relasi dan tata kelola sekolah. Course 5 menempatkan trust sebagai fondasi perubahan melalui empat unsur relational trust: respect, competence, personal regard, dan integrity. Peserta juga diajak melihat behavioral integrity sebagai keselarasan antara nilai yang diucapkan dan yang dijalankan. Semakin lebar jarak antara ucapan dan tindakan, semakin besar kepercayaan yang dipertaruhkan; sebaliknya, konsistensi kecil yang terus diulang dapat membentuk prediktabilitas, rasa aman, dan kemauan untuk bekerja sama.
Amanah karena itu tidak dipahami hanya sebagai penyelesaian tugas. Bagi guru, amanah tampak dalam konsistensi kompetensi mengajar dan keadilan terhadap setiap peserta didik. Bagi tenaga kependidikan, amanah hadir dalam akurasi kerja, konsistensi layanan, serta dokumen dan proses administratif yang dapat diandalkan. Pada level manajemen, amanah bertemu dengan transparansi proses, alasan keputusan yang jelas, dan perlakuan yang hormat. Materi juga menyoroti psychological safety: lingkungan yang membuat orang berani bertanya, mengakui kesalahan, dan menyampaikan pendapat berbeda tanpa takut dipermalukan.
Kolaborasi kemudian dipahami bukan sekadar bekerja bersama di tempat yang sama, tetapi membangun interdependensi positif: tindakan setiap orang membantu tujuan bersama. Karena itu, kepala sekolah didorong bergeser dari sekadar mengawasi menjadi memfasilitasi kolaborasi. Professional Learning Community (PLC), budaya berbagi, peer learning, dan mentoring menjadi perangkat konkret untuk menjaga pembelajaran profesional tetap hidup. Materi menekankan bahwa mentoring perlu menjadi bagian dari program kerja tahunan dengan sasaran, mentor, jadwal, dan indikator keberhasilan yang jelas, bukan kegiatan insidental.
Salah satu pesan penting dari sesi ini adalah bahwa banyak rapat dan aktivitas kolaboratif belum tentu otomatis menghasilkan dampak. Kolaborasi perlu diarahkan pada perkembangan belajar peserta didik secara spesifik. Karena itu, peserta didorong meninjau forum kerja di sekolah: apakah diskusi lebih banyak berhenti pada logistik administratif, atau sudah membahas data, kemajuan, tantangan, dan kebutuhan belajar siswa. Dalam satu sampai dua minggu setelah bootcamp, peserta juga diarahkan mempraktikkan konsistensi penuh pada satu nilai yang sering diucapkan tetapi belum selalu dijalankan, serta merumuskan satu komitmen kolaboratif dengan indikator keberhasilan yang dapat diukur.
Tujuh Wilayah, Satu Ruang Belajar Bersama
Kehadiran peserta dari tujuh wilayah yang berbeda di Regional Jawa Barat memperkaya diskusi hari kedua. Tantangan yang dibawa setiap sekolah berbeda, mulai dari kebutuhan pembelajaran, layanan administrasi, pengembangan SDM, digitalisasi, komunikasi dengan orang tua, hingga penguatan budaya kerja, namun materi hari kedua mempertemukan semuanya pada satu benang merah: sekolah unggul membutuhkan individu yang mau terus belajar sekaligus sistem yang memberi ruang untuk bereksperimen, berkolaborasi, dan bertanggung jawab.
Rangkaian hari kedua menutup perjalanan bootcamp dengan pesan bahwa keunggulan tidak cukup diukur dari prestasi sesaat. Keunggulan bertumbuh ketika sekolah mampu membaca kebutuhan, menghasilkan gagasan, menguji solusi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap kolaborasi bermuara pada perbaikan layanan serta perkembangan peserta didik. Kreativitas memberi keberanian untuk mencoba, integritas menjaga arah, sementara kolaborasi membuat perubahan dapat bertahan melampaui satu orang atau satu program.
Dengan berakhirnya hari kedua, Bootcamp SUGT Regional Jawa Barat 2026 diharapkan meninggalkan praktik yang dapat segera diterapkan di sekolah: refleksi rutin, umpan balik yang jujur, penyederhanaan proses, penggunaan AI yang terverifikasi, penguatan komunitas belajar, serta komitmen pada satu perubahan kecil yang terukur. Ketika keberanian mencoba di level kelas bertemu dengan sistem, budaya, dan relasi yang saling percaya di level sekolah, keunggulan tidak lagi menjadi slogan, tetapi menjadi cara kerja bersama.









Kontak Media:
Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif IPB University
Email: lkpe@apps.ipb.ac.id
Telepon: (0251) 8622645


