
Makassar, 4 Oktober 2026 — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama IPB University melalui Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) melaksanakan Pelatihan 1 Regional Makassar Program Pengembangan Kerja Sama/Kemitraan Strategis Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 3–5 Oktober 2026 ini menjadi ruang pembelajaran bagi manajemen sekolah untuk memperkuat strategi dalam membangun kemitraan yang relevan dengan kebutuhan sekolah, memiliki nilai bersama, serta menghasilkan dampak nyata bagi pengembangan peserta didik dan institusi.
Pelatihan mempertemukan manajemen dari sejumlah sekolah di kawasan Indonesia Timur, yaitu MAN Insan Cendekia Gorontalo, SMA Golden Gate, SMA Siwalima Ambon, SMA Averos, SMAN 5 Parepare, dan SMA Taruna Nusantara Minahasa. Peserta tidak hanya diajak memahami konsep kemitraan strategis, tetapi juga memetakan kebutuhan sekolah, menentukan mitra prioritas, membangun kontak awal, mengelola hubungan dengan calon mitra, hingga menerjemahkan peluang kerja sama menjadi rancangan program yang dapat diimplementasikan.


Kegiatan diawali dengan Opening Course – Strategic Alignment Session bersama Dr. Willy Bachtiar, S.I.Kom., M.I.Kom. Sesi ini mengajak peserta merefleksikan pengalaman kerja sama yang telah dimiliki oleh masing-masing sekolah sekaligus melihat kembali arah kemitraan yang ingin dibangun pada masa mendatang.
Dalam sesi tersebut, peserta berbagi pengalaman terkait berbagai bentuk kemitraan yang telah berjalan. Beberapa di antaranya mencakup kerja sama dengan perguruan tinggi untuk peningkatan kapasitas guru dan sarana prasarana, program sister school dengan institusi luar negeri, pengembangan jalur pendidikan internasional, hingga kolaborasi dalam pengembangan potensi dan talenta peserta didik. Pengalaman tersebut menjadi titik awal untuk mengevaluasi kembali apakah kerja sama yang telah dibangun telah memberikan manfaat dan dampak yang optimal bagi sekolah.
Peserta kemudian diajak membayangkan kondisi kemitraan yang ingin diwujudkan pada tahun 2029. Dari proses tersebut, muncul berbagai kebutuhan dan aspirasi strategis, mulai dari penguatan riset bersama BRIN, pengembangan kolaborasi dengan IPB University, UGM, ITB, NUS, MIT, hingga pengembangan program peningkatan kapasitas guru, akses pendidikan tinggi, pengembangan teknologi dan artificial intelligence, serta pembangunan ekosistem sekolah yang lebih berkelanjutan.
Pembahasan kemudian dilanjutkan melalui Course 1 – Building Strategic Partnerships for Global-Ready Talent: From MoU to Meaningful Impact bersama Dr. Pria Sembada, S.Pt., M.S.T., M.Si. Sesi ini mengajak peserta melihat kembali persoalan kemitraan yang berhenti pada kesepakatan formal tanpa dilanjutkan dengan program yang memberikan manfaat nyata.


Salah satu pengalaman yang dibagikan peserta menunjukkan adanya kerja sama yang berhenti setelah dokumen MoU ditandatangani. Melalui diskusi dan role play “speed partnership”, peserta berlatih melihat kebutuhan dan kepentingan dari perspektif sekolah maupun calon mitra. Pendekatan ini menegaskan pentingnya memastikan bahwa kemitraan tidak berhenti pada dokumen, tetapi diterjemahkan menjadi kegiatan dan program yang memberikan nilai bagi kedua belah pihak.
Selanjutnya, peserta memasuki sesi Partner Matchmaking bersama Ibu Intani Dewi, S.Pt. Fokus pembelajaran diarahkan pada kemampuan sekolah dalam menentukan tiga mitra prioritas berdasarkan kebutuhan dan potensi masing-masing sekolah.


Proses matchmaking menghasilkan sejumlah prioritas yang cukup beragam. MAN Insan Cendekia Gorontalo, misalnya, memprioritaskan kolaborasi dengan BRIN untuk pengembangan penelitian serta membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi unggulan seperti IPB University, UGM, dan ITB. Sekolah tersebut juga melihat peluang membangun kolaborasi dengan National University of Singapore (NUS) melalui penyusunan proposal dan pertemuan dengan calon mitra.
Sementara itu, SMA Taruna Nusantara Minahasa mengidentifikasi peluang pengembangan IELTS Center, pengelolaan green campus, serta penguatan jejaring alumni dan akses ke perguruan tinggi nasional maupun internasional. SMA Siwalima Ambon memprioritaskan pendampingan untuk meningkatkan akses peserta didik ke perguruan tinggi luar negeri, terutama karena sebagian besar proses selama ini masih dilakukan secara mandiri.
Proses pemetaan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan setiap sekolah memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, pemilihan mitra diarahkan bukan berdasarkan banyaknya institusi yang dapat diajak bekerja sama, melainkan berdasarkan nilai, relevansi kebutuhan, serta dampak yang dapat dihasilkan.
Setelah menentukan mitra prioritas, peserta kemudian mengikuti sesi mengenai First Contact to Partnership bersama Bapak Dr. Abung. Sesi ini berfokus pada kemampuan sekolah membangun komunikasi awal dengan calon mitra dan mengembangkan hubungan tersebut secara sistematis.


Peserta menyusun berbagai perangkat untuk mendukung proses tersebut, mulai dari University Contact Map, First Contact Map, Conversation Map, Follow Up, Do and Don’ts, Handling Objection, hingga rencana 30–60–90 hari. Melalui proses ini, sekolah tidak hanya menentukan siapa yang akan dihubungi, tetapi juga mulai merancang bagaimana hubungan dengan calon mitra dapat dibangun dan dikembangkan secara bertahap.
Hasil dari sesi ini menunjukkan bahwa seluruh sekolah telah menyusun kerangka first contact to partnership yang dapat langsung diaplikasikan dalam proses pendekatan kepada calon mitra. Pendekatan tersebut menjadi penting untuk memastikan bahwa komunikasi awal memiliki arah yang jelas dan dapat berkembang menuju hubungan kemitraan yang lebih konkret.


Kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang kompleks kemudian menjadi fokus melalui sesi The School Decision Lab: Leading Change Under Pressure bersama Bapak Dr. Hudi Susanto. Sesi ini mengajak peserta melihat tantangan pengelolaan sekolah dari perspektif pengambilan keputusan, khususnya ketika dihadapkan pada keterbatasan sumber daya, kebutuhan yang beragam, dan perubahan situasi.
Pembelajaran selanjutnya diarahkan pada Design the Solution – Future Ready School Program Lab bersama Bapak Rici. Dalam sesi ini, peserta mulai menerjemahkan kebutuhan dan peluang kemitraan yang telah dipetakan menjadi gagasan program yang lebih konkret.


Sejumlah ide program mulai dikembangkan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing sekolah. SMA Taruna Nusantara Minahasa, misalnya, mengidentifikasi peluang pengembangan program pelatihan TKA. Sekolah lainnya juga mulai mengembangkan gagasan berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan dan prioritas kemitraan yang telah dilakukan sebelumnya.
Pembelajaran dilanjutkan melalui Course 6 Partnership Proposal Clinic: How to Create a Compelling Collaboration Proposal bersama Bapak Alfa Taufan Latif, S.I.Kom., M.Sc. Sesi ini berfokus pada praktik penyusunan proposal kemitraan yang terstruktur, meyakinkan, dan sesuai dengan kebutuhan sekolah serta kepentingan calon mitra.


Peserta diarahkan untuk menerjemahkan hasil pemetaan kebutuhan dan prioritas mitra menjadi rancangan proposal yang memuat tujuan, bentuk kolaborasi, serta manfaat yang ingin dicapai. Melalui sesi ini, sekolah diharapkan mampu mengembangkan gagasan kemitraan menjadi rencana kerja sama yang konkret, relevan, dan berdampak bagi pengembangan sekolah serta peserta didik.
Rangkaian pembelajaran Regional Makassar menunjukkan bahwa pengembangan kemitraan strategis perlu dimulai dari pemahaman terhadap kebutuhan internal sekolah. Pengalaman kerja sama yang telah dimiliki menjadi dasar evaluasi, kemudian dilanjutkan dengan pemetaan kebutuhan, penentuan mitra prioritas, penyusunan strategi kontak awal, hingga perancangan program yang dapat memberikan manfaat konkret.
Melalui proses tersebut, peserta tidak hanya diarahkan untuk menambah jumlah mitra, tetapi untuk memastikan bahwa setiap kemitraan memiliki alasan yang jelas, relevan dengan kebutuhan sekolah, serta mampu memberikan dampak yang dapat dirasakan oleh peserta didik, guru, maupun institusi.
Pelatihan 1 Regional Makassar menjadi bagian dari upaya Kemendiktisaintek bersama IPB University dalam memperkuat ekosistem kemitraan SUGT 2026 yang berorientasi pada kebutuhan dan hasil. Berbagai pemetaan dan rancangan yang dihasilkan selama pelatihan diharapkan menjadi dasar bagi sekolah untuk menindaklanjuti komunikasi dengan calon mitra dan mengembangkan kolaborasi yang lebih konkret.
Pada akhirnya, kemitraan strategis bukan semata tentang berapa banyak mitra yang berhasil dibangun, tetapi tentang seberapa relevan, bernilai, dan berdampak hubungan tersebut bagi pengembangan sekolah. Dengan pendekatan yang dimulai dari kebutuhan dan dilanjutkan melalui proses matchmaking, relationship building, pengambilan keputusan, serta perancangan solusi, sekolah diharapkan semakin siap membangun kemitraan yang bermakna dan berkelanjutan bagi lahirnya talenta yang siap menghadapi masa depan.
















Kontak Media:
Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif IPB University
Email: lkpe@apps.ipb.ac.id
Telepon: (0251) 8622645


